Motor ninja melaju begitu mulus membelah jalanan yang banyak likuan terjal. Pepohonan rindang berada di kanan-kiri membuat jalanan terlihat petang tak terkena sinar mentari.
Deruman motor bersahutan, menggema di gendang telinga para pelaju. Suara truk angkutan pasir dan batu pun juga terdengar berat di alat indera mereka.
"Lo mau bawa gue kemana?" Diana menatap dari kaca spion, mendekati telinga Shandy walaupun tertutup helm full face-nya. "Gue nggak tau tempat ini, Shan."
"Saya kira kamu bakalan suka, Na. Nikmati aja semuanya." kata Shandy mengelus tangan Diana yang melingkar di perutnya. Nyaman sekali.
"Tapi gue mau ngomong bentar sama lo, Shan."
"Ngomongnya dipending dulu. Jangan sekarang, saya mau kasih kamu kejutan untuk yang kesekian kalinya." teriak Shandy lalu kembali menyetang motor itu karena jalanan sudah masuk area menengangkan.
Jawaban Shandy pun menjadi akhir perbincangan di atas motor. Mereka sama-sama diam, dengan Shandy terus fokus akan jalanan yang sudah menguji nyali. Sedangkan Diana terus melihat pemandangan indah yang mencuci mata. Menakutkan sebenarnya, namun Diana tak akan melewatkan kebersamaan ini.
Motor itu berhenti di sebuah pos penitipan motor. Shandy langsung menarik tangan Diana untuk naik ke puncak yang katanya sangat cantik di pagi hari. Mereka tertawa, bertukar cerita dan saling menguatkan untuk naik ke tanah yang lebih tinggi. Bebatuan pun semakin merumitkan jalan mereka.
"Hati-hati, Na." perhatian Shandy yang seperti itulah yang membuat senyum Diana merekah.
"Lo suka banget ya bawa gue ke puncak-puncak gini, jarang malah lo bawa gue ke pantai." celoteh Diana saat berhenti berjalan, mengatur nafas.
"Karena saya lebih suka yang ekstrem, Na. Kita ke pantai cuma lihat bule-bule dan ramai pengunjung, kan?" tanya Shandy membuat Diana mengangguk cepat. "Beda sama tempat ini, sepi, dan kita bisa berduaan tanpa dilihat banyak orang. Jadi kita berdua nggak malu untuk melakukan apapun." kekeh Shandy membuat mata Diana membulat.
"Ih lo mesum ya ternyata!" teriak Diana tanpa memerhatikan situasi. Tangannya refleks memukul lengan Shandy.
"Bukan gitu, saya cuma jawab fakta yang membedakan antara pantai sama puncak. Kalau kamu berpikiran seperti itu terserah, intinya saya nggak seperti yang kamu ucapkan barusan." pasrah Shandy lalu mempercepat langkahnya meninggalkan Diana dengan jarak hampir lima meter.
Diana langsung berlari lebih cepat dan mensejajarkan langkahnya. "Gue suka sama lo yang ngambekan, Shan. Lebih keren, cakep pula." gurau Diana.
"Apa saya harus ngambek terus sama kamu bias saya selalu dipuji sama kamu? Apa saya kalau nggak ngambek jelek?" Diana diam tak menjawab. Apa yang dipikir Shandy? "Becanda. Jangan dipikirin. Saya lebih suka memperlihatkan senyum saya karena itu ibadah." ralat Shandy sambil mencoel hidung Diana.
"Gue tau kok."
Duapuluh lima menit kemudian, kaki mereka sudah sampai di titik tertinggi. Lelah dan capek. Itulah yang pertama kali terbesit di otak keduanya.
Diana tertegun, usahanya untuk sampai di sini tak sia-sia. Pengorbanan yang begitu menantang dan membuat nyali menciut pun juga tak kalah. Diana berlarian kecil dan berputar.
"Bagus banget pemandangannya, Shan. Baru pertama gue naik ke puncak ini. Keren. Keren. Terima kasih ya." tutur Diana seraya melihat semua penjuru yang bisa ia lihat.
Matanya tak berhenti keliaran, menatap depan yang disuguhi pemandangan air terjun dengan sedikit tertutup kabut, kanan kiri yang hanya terdapat pepohonan dan kursi rotan yang berjajar.
"Kamu belum pernah ke sini?" Diana menggeleng pelan. "Besok kita cari spot yang lebih bagus dari ini. Tak jauh kok dari pusat Yogya, Na." janji Shandy seraya menatap wajah Diana yang begitu cantik meski keringat sedikit membasahi.
Gue nggak bisa, Shan. Batin Diana berusaha menutupi kegelisahannya dengan senyuman.
Shandy terus tersenyum tulus ke arah Diana, secercah kebahagiaan terlintas begitu saja. Sesekali mengelus rambut hitam gadis itu dan menyelipkan ke belakang membuat Diana semakin tak kuasa mengucapkan pemikiran.
"Saya cinta sama kamu."
Shandy berjalan mendekati salah satu pohon, mengambil kunci motor di saku celana dan mengukir sesuatu. Diana pun mendekat, memperhatikan Shandy yang sedang serius. Ia membacanya dengan sangat senang. SHANDYANA. Itulah yang ia tulis, perpaduan nama mereka berdua akan pemberian Shandy.
"Makasih, Shan." senyumnya tanda balasan. "Shan, boleh gue ngobrol bentar sama lo?" tanya Diana setelah Shandy selesai menulis. "Mau ngomong apa? Sini saya dengarkan."
"Sepertinya cukup Shan." tegas Diana membuat Shandy mengernyit bingung. "Hubungan kita cukup sampai di sini." lanjutnya langsung meneteskan air mata.
"Kenapa, Na? Kamu nggak nyaman sama saya? A-atau saya ada salah sama kamu? Kenapa tiba-tiba, Na?" Shandy yang tak percaya akan ucapan itu melontarkan pertanyaan beruntun. Ia mengangkat kepala Diana untuk tetap menatapnya. "Jawab, Na."
"Gue mau fokus ngejar cita-cita gue, Shan. Gue mau sukses dulu, gue nggak mau dengan adanya kita yang pacaran bisa ngehalang impian yang udah gue rancang sedemikian rupa. Gue nggak mau, Shan. Kalaupun kita jodoh kita bakal bersatu lagi, Shan. Gue pegang prinsip itu. Gue harap lo tau apa maksud gue."
"Sebenarnya berat buat gue ngomong ini ke elo. Lo mau kan nurutin kemauan gue? Ini demi kita berdua. Lo yang mau jadi polisi dan pergi jauh dari gue, dan gu-gue yang akan pergi lebih jauh dari lo demi cita-cita gue." air mata keduanya luruh seketika. Diam sekejab yang menjadi jawaban bahwa berat untuk membalas perkataan itu.
"Apa cuma ada pilihan itu?"
"Gue nggak tau lagi, Shan. Gue kira itu yang terbaik."
Shandy langsung membawa Diana ke pelukannya, hangat sekali. Diana semakin terisak jelas di dekapnya. "Saya berat melepas kamu, saya udah sayang banget sama kamu. Saya nggak mau kehilangan kamu, Na. Saya nggak mau—" penjelasan itu berhenti, terakhir kalinya mereka berpeluk seperti ini. Sedekat ini dan senyaman ini. Kelak sudah tak ada pelukan hangat yang menenangkan. Terakhir kalinya.
"Tapi jika itu mau kamu, saya akan coba terima meskipun berat hati saya buat ngungkapin ini, Na. Saya sayang sama kamu. Kamu masih mau ketemu sama saya, hubungin saya, kan?"
"Pasti, Shan. Pasti. Terima kasih. Gue sayang banget sama lo."
"Saya juga sayang sama kamu."
Mereka semakin mengeratkan pelukannya, tak peduli dengan pendaki yang menatap haru pelukan mereka. Bagi Shandy, Diana sudah menjadi pengobat laranya dikala keluarga yang mulai terpecah belah, dan bagi Diana, Shandy lah sosok yang mampu membuatnya kuat sampai hari ini.
Mereka sama-sama bersyukur bisa dipertemukan dan disatukan hampir tiga tahun ini. Namun, takdir yang tiba-tiba memisahkan, memisahkan untuk tak bertegur sapa beberapa tahun.
"Udah jangan nangis. Saya kasihan sama tempat ini, nanti bisa-bisa dia juga nangis kayak kamu. Simpan tangis itu, Na. Itu sangat berharga." kata Shandy mengelap air mata Diana.
"Lo nggak kasihan sama gue?"
"Saya kasihan sama air mata kamu." canda Shandy membuat Diana mencubit pinggang Shandy. "Awas lo, Shan!!" ancam Diana langsung mengejar Shandy yang berlarian kecil.
Deruman motor bersahutan, menggema di gendang telinga para pelaju. Suara truk angkutan pasir dan batu pun juga terdengar berat di alat indera mereka.
"Lo mau bawa gue kemana?" Diana menatap dari kaca spion, mendekati telinga Shandy walaupun tertutup helm full face-nya. "Gue nggak tau tempat ini, Shan."
"Saya kira kamu bakalan suka, Na. Nikmati aja semuanya." kata Shandy mengelus tangan Diana yang melingkar di perutnya. Nyaman sekali.
"Tapi gue mau ngomong bentar sama lo, Shan."
"Ngomongnya dipending dulu. Jangan sekarang, saya mau kasih kamu kejutan untuk yang kesekian kalinya." teriak Shandy lalu kembali menyetang motor itu karena jalanan sudah masuk area menengangkan.
Jawaban Shandy pun menjadi akhir perbincangan di atas motor. Mereka sama-sama diam, dengan Shandy terus fokus akan jalanan yang sudah menguji nyali. Sedangkan Diana terus melihat pemandangan indah yang mencuci mata. Menakutkan sebenarnya, namun Diana tak akan melewatkan kebersamaan ini.
Motor itu berhenti di sebuah pos penitipan motor. Shandy langsung menarik tangan Diana untuk naik ke puncak yang katanya sangat cantik di pagi hari. Mereka tertawa, bertukar cerita dan saling menguatkan untuk naik ke tanah yang lebih tinggi. Bebatuan pun semakin merumitkan jalan mereka.
"Hati-hati, Na." perhatian Shandy yang seperti itulah yang membuat senyum Diana merekah.
"Lo suka banget ya bawa gue ke puncak-puncak gini, jarang malah lo bawa gue ke pantai." celoteh Diana saat berhenti berjalan, mengatur nafas.
"Karena saya lebih suka yang ekstrem, Na. Kita ke pantai cuma lihat bule-bule dan ramai pengunjung, kan?" tanya Shandy membuat Diana mengangguk cepat. "Beda sama tempat ini, sepi, dan kita bisa berduaan tanpa dilihat banyak orang. Jadi kita berdua nggak malu untuk melakukan apapun." kekeh Shandy membuat mata Diana membulat.
"Ih lo mesum ya ternyata!" teriak Diana tanpa memerhatikan situasi. Tangannya refleks memukul lengan Shandy.
"Bukan gitu, saya cuma jawab fakta yang membedakan antara pantai sama puncak. Kalau kamu berpikiran seperti itu terserah, intinya saya nggak seperti yang kamu ucapkan barusan." pasrah Shandy lalu mempercepat langkahnya meninggalkan Diana dengan jarak hampir lima meter.
Diana langsung berlari lebih cepat dan mensejajarkan langkahnya. "Gue suka sama lo yang ngambekan, Shan. Lebih keren, cakep pula." gurau Diana.
"Apa saya harus ngambek terus sama kamu bias saya selalu dipuji sama kamu? Apa saya kalau nggak ngambek jelek?" Diana diam tak menjawab. Apa yang dipikir Shandy? "Becanda. Jangan dipikirin. Saya lebih suka memperlihatkan senyum saya karena itu ibadah." ralat Shandy sambil mencoel hidung Diana.
"Gue tau kok."
Duapuluh lima menit kemudian, kaki mereka sudah sampai di titik tertinggi. Lelah dan capek. Itulah yang pertama kali terbesit di otak keduanya.
Diana tertegun, usahanya untuk sampai di sini tak sia-sia. Pengorbanan yang begitu menantang dan membuat nyali menciut pun juga tak kalah. Diana berlarian kecil dan berputar.
"Bagus banget pemandangannya, Shan. Baru pertama gue naik ke puncak ini. Keren. Keren. Terima kasih ya." tutur Diana seraya melihat semua penjuru yang bisa ia lihat.
Matanya tak berhenti keliaran, menatap depan yang disuguhi pemandangan air terjun dengan sedikit tertutup kabut, kanan kiri yang hanya terdapat pepohonan dan kursi rotan yang berjajar.
"Kamu belum pernah ke sini?" Diana menggeleng pelan. "Besok kita cari spot yang lebih bagus dari ini. Tak jauh kok dari pusat Yogya, Na." janji Shandy seraya menatap wajah Diana yang begitu cantik meski keringat sedikit membasahi.
Gue nggak bisa, Shan. Batin Diana berusaha menutupi kegelisahannya dengan senyuman.
Shandy terus tersenyum tulus ke arah Diana, secercah kebahagiaan terlintas begitu saja. Sesekali mengelus rambut hitam gadis itu dan menyelipkan ke belakang membuat Diana semakin tak kuasa mengucapkan pemikiran.
"Saya cinta sama kamu."
Shandy berjalan mendekati salah satu pohon, mengambil kunci motor di saku celana dan mengukir sesuatu. Diana pun mendekat, memperhatikan Shandy yang sedang serius. Ia membacanya dengan sangat senang. SHANDYANA. Itulah yang ia tulis, perpaduan nama mereka berdua akan pemberian Shandy.
"Makasih, Shan." senyumnya tanda balasan. "Shan, boleh gue ngobrol bentar sama lo?" tanya Diana setelah Shandy selesai menulis. "Mau ngomong apa? Sini saya dengarkan."
"Sepertinya cukup Shan." tegas Diana membuat Shandy mengernyit bingung. "Hubungan kita cukup sampai di sini." lanjutnya langsung meneteskan air mata.
"Kenapa, Na? Kamu nggak nyaman sama saya? A-atau saya ada salah sama kamu? Kenapa tiba-tiba, Na?" Shandy yang tak percaya akan ucapan itu melontarkan pertanyaan beruntun. Ia mengangkat kepala Diana untuk tetap menatapnya. "Jawab, Na."
"Gue mau fokus ngejar cita-cita gue, Shan. Gue mau sukses dulu, gue nggak mau dengan adanya kita yang pacaran bisa ngehalang impian yang udah gue rancang sedemikian rupa. Gue nggak mau, Shan. Kalaupun kita jodoh kita bakal bersatu lagi, Shan. Gue pegang prinsip itu. Gue harap lo tau apa maksud gue."
"Sebenarnya berat buat gue ngomong ini ke elo. Lo mau kan nurutin kemauan gue? Ini demi kita berdua. Lo yang mau jadi polisi dan pergi jauh dari gue, dan gu-gue yang akan pergi lebih jauh dari lo demi cita-cita gue." air mata keduanya luruh seketika. Diam sekejab yang menjadi jawaban bahwa berat untuk membalas perkataan itu.
"Apa cuma ada pilihan itu?"
"Gue nggak tau lagi, Shan. Gue kira itu yang terbaik."
Shandy langsung membawa Diana ke pelukannya, hangat sekali. Diana semakin terisak jelas di dekapnya. "Saya berat melepas kamu, saya udah sayang banget sama kamu. Saya nggak mau kehilangan kamu, Na. Saya nggak mau—" penjelasan itu berhenti, terakhir kalinya mereka berpeluk seperti ini. Sedekat ini dan senyaman ini. Kelak sudah tak ada pelukan hangat yang menenangkan. Terakhir kalinya.
"Tapi jika itu mau kamu, saya akan coba terima meskipun berat hati saya buat ngungkapin ini, Na. Saya sayang sama kamu. Kamu masih mau ketemu sama saya, hubungin saya, kan?"
"Pasti, Shan. Pasti. Terima kasih. Gue sayang banget sama lo."
"Saya juga sayang sama kamu."
Mereka semakin mengeratkan pelukannya, tak peduli dengan pendaki yang menatap haru pelukan mereka. Bagi Shandy, Diana sudah menjadi pengobat laranya dikala keluarga yang mulai terpecah belah, dan bagi Diana, Shandy lah sosok yang mampu membuatnya kuat sampai hari ini.
Mereka sama-sama bersyukur bisa dipertemukan dan disatukan hampir tiga tahun ini. Namun, takdir yang tiba-tiba memisahkan, memisahkan untuk tak bertegur sapa beberapa tahun.
"Udah jangan nangis. Saya kasihan sama tempat ini, nanti bisa-bisa dia juga nangis kayak kamu. Simpan tangis itu, Na. Itu sangat berharga." kata Shandy mengelap air mata Diana.
"Lo nggak kasihan sama gue?"
"Saya kasihan sama air mata kamu." canda Shandy membuat Diana mencubit pinggang Shandy. "Awas lo, Shan!!" ancam Diana langsung mengejar Shandy yang berlarian kecil.
Komentar
Posting Komentar